Lifestyle

Disney+ Tak Akan Suguhkan Konten Rasialisme

Deskripsi singkat: Disney+ yang akan diluncurkan 12 November 2019 mendatang akan menghapus konten rasialisme.

Disney+ Tak Akan Suguhkan Konten Rasialisme

Kabar datang dari Disney yang sudah mendeklarasikan komitemen mereka untuk menghapus adegan yang berbau rasial dari beberapa film sebelum dirilis melalui layanan streaming terbaru mereka, Disney+. Keputusan tersebut adalah kelanjutan dari kebijakan Disney untuk memotong beberapa meteri yang mana dianggap sudah ketinggalan jaman.

Tak Akan Suguhkan Konten Rasial

Dilansir dari CNN Indonesia, adegan di dalam film animasi Dumbo jadi salah satu yang kena potong itu. Di film tersebut ada adegan yang mana menampilkan buruk gagak bernama Jim Crow. Nama Jim Crow ini sendiri diambil dari sosok Blackface yang mana adalah Teknik rias pada pemain teater berkulit putih guna merepresentasikan orang-orang kulit hitam.

Dikutip dari CNN Indonesia juga, film animasi Song of the South pun tak akan dirilis melalui Disney+. Sebelumnya, film yang dirilis di tahun 1946 tersebut dihujat dan menuai banyak kontroversi karena menampilkan stereotip pada suatu ras.

Disney+ juga sudah menjadi rencana besar Disney sendiri sejak beberapa tahun yang lalu. Dua minggu lalu mereka juga mengumumkan Disney+ akan dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 12 November 2019 mendatang. Layanan streaming tersebut bakal menyajikan berbagai macam serial dan film yang ada di bawah naungan The Walt Disney Company. Totalnya ada 25 serial, 10 film serta masih ada beberapa film documenter yang dijadwalkan akan dirilis di tahun pertama Disney+ ini.

Beberapa di antaranya adalah keluaran baru misalnya serial lepas dari Star Wars, serial documenter The World According to Jeff Goldblum dan juga The Mandalorian.

Disney+ Siap Saingi Netflix

Disney sendiri kabarnya mematok harga US$ 6,99 per bulannya atau bisa disetarakan dengan harga Rp. 98 ribu untuk yang ingin berlangganan Disney+ ini. Layanan streaming ini bakal menjadi competitor beberapa layanan streaming lainnya, salah satunya Netflix.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, layanan streaming seperti Netflix siap-siap akan mempunyai saingan sehingga para penikmat layanan streaming juga pasti akan memilah dan memilih yang mana yang akan mereka datangi. Disney+ sudah dipastikan akan meluncur pada tanggal 12 November 2019. Layanan ini tersedia di aplikasi iOS dan Android, dan diakses lewat smart TV, browser web di HP, dan di tablet atau di konsol game juga.

Harga berlangganan yang dipatok sebesar US $6,99 atau setara dengan Rp. 98 ribu ini memang sedikit lebih murah jika dibandingkan dengan langganan Netflix yang mencapai Rp. 109.000 di Indonesia untuk paket dasar dan yang paling murah Rp. 169.000 untuk paket yang premium.

Selaku pimpinan unit direct to consumer Disney, Kevin Mayer, ia menjelaskan bahwa Disney+ juga telah menjalin kesepakatan dengan Sony dan Roku untuk ketersediaan di platform mereka masing-masing. Untuk layanannya sendiri, antarmuka Disney+ ini sendiri sekilas memang mirip dengan Netflix. Penggunanya juga akan disambut dengan barisan konten yang mana direkomendasikan. Film dan serial TV terbaru terbagi juga ke dalam beberapa kategori.

Namun tak seperti Netflix, ada 5 kotak pada bagian atas halaman depan, yang bakal membawa penggunanya menikmati konten dari Disney yang lainnya seperti misalnya Marvel, Pixar, Star Wars, National Geographic dan tentu saja dari Disney sendiri.

Pelanggan juga bisa membuat profil personal untuk memilih apa saja konten yang menarik untuk dirinya. Tidak hanya itu, ada parental control yang bakal diterapkan otomatis untuk profil anak.

Ini Sambal Kegemaran Masyarakat Indonesia

Tanah air kita memang terkenal dengan kekayaan kulinernya, termasuk sambal yang sangat khas bagi masyarakat Indonesia. Beberapa jenis sambal yang cukup dikenal penggemar kuliner pedas adalah sambal terasi, sambal korek, sambal bawang, dan sambal roa. Menurut Murdijati Gardjito, Peneliti Ilmu Pangan Senior dari UGM, setiap daerah di tanah air mempunyai sambal khas-nya masing-masing. Pada riset teranyarnya ia mengumpulkan ada 322 jenis sambal di seluruh nusantara.

 

Sambal kesukaan masyarakat Indonesia

Secara umum sambal yang digemari masyarakat ternyata adalah sambal sederhana dengan resep dasar yang simple dan bisa dikembangkan menjadi jenis sambal yang lain. Hal ini dikatakan oleh Direktur Restoran Super Sambal, Yoyok, pada sela-sela seminar UGM tentang Kuliner Serba Pedas. Ia pun berkenan membocorkan tipe-tipe sambal yang paling diminati pelanggannya dari 84 jenis sambal yang tersedia. Jawabannya ternyata adalah sambal terasi dan sambal bawang, dengan omset setiap bulannya bisa mencapai hingga 1.2 juta porsi.

 

Para peringat 3 ada sambal terasi tomat serta sambal terasi goreng atau masak, lalu menyusul beragam jenis sambal modifikasi, misalnya sambal teri, sambal belut, sambal mangga, hingga sambal tempe. Di restoran Super Sambal Yoyok mengatakan bahwa yang dikeluarkan di menu hanya 25 jenis sambal dari keseluruhan sambal yang diracik.

 

Berikutnya, sisanya akan di-switch untuk diganti mana menu sambal yang kurang disukai. Hidangan pedas dari resto Super Sambal ternyata menjadi favorit masyarakat di kawasan Pantura, mulai dari kota Cirebon hingga Semarang. Selain itu kuliner pedas juga disukai di kawasan Jawa Barat, Jawa Timur, serta DKI Jakarta.

 

Sejak kapan orang Indonesia mengonsumsi sambal?

Sejak kapan sesungguhnya masyarakat di tanah air mulai mengonsumsi sambal? Titi Surti Nastiti, arkeolog Indonesia mengatakan bahwa sejak masa Kerajaan Mataram Kuno cabai telah menjadi komoditas mahal di pasar-pasar. Teks kuno Ramayana yang ditulis abad ke-10 menyebutkan bahwa cabai adalah buah yang bisa dimakan. Pada era Hindia Belanda, buku De Medicina Indorum (1631) karya Jacob de Bont yang merupakan ahli kesehatan serta obat-obatan tropis mencantumkan bahwa cabai merupakan barang konsumsi.

 

Van Overbeke bahkan menggubah syair tentang sambal sebagai campuran bahan bawang putih, jahe, kacang kedelai, dan cabai yang membuat perut berputar karena pedas. Orang-orang barat memang tak tahan dengan rasa pedas namun mereka menganggap bahwa sambal adalah hidangan togel online yang eksotis. Pada masa pendudukan VOC Belanda, pembantu lokal yang bisa membuat sambal yang enak untuk majikannya akan digaji tinggi. Pemerintah Hindia Belanda sampai perlu memberikan peringatan bagi warga negaranya yang ingin berkunjung ke Hindia Belanda akan bahaya sambal untuk pencernakan mereka.

 

Bagi orang Indonesia rasanya belum lengkap bila menyantap hidangan tanpa ditemani sambal. Tentu saja peningkatan harga cabai bisa menimbulkan keresahan bagi sebagian besar kalangan masyarakat. Para penggemar kuliner pedas memang seringkali mengonsumsi sambal untuk menambah selera makan. Bila berkesempatan bertandang ke luar negeri salah satu barang bawaan yang tak pernah ketinggalan dari orang Indonesia adalah sambal botol atau sachet. Inilah buktinya masyarakat di tanah air memang pecinta sambal sejati.

 

Menurut Lisa Virgiano, Brand Director Kaum, pada acara workshop pembuatan sambal di Jakarta beberapa waktu lalu, salah satu alasan mengapa masyarakat Indonesia kaya dengan jenis sambal adalah karena etnisnya yang sangat beraneka ragam dan banyak. Nusantara kita memiliki sekitar 300 etnis penduduk, bila satu etnis saja mempunyai sambal khas sejumlah 5 jenis, tentu jumlah keseluruhannya sangat banyak.