Lifestyle

Ini Sambal Kegemaran Masyarakat Indonesia

Tanah air kita memang terkenal dengan kekayaan kulinernya, termasuk sambal yang sangat khas bagi masyarakat Indonesia. Beberapa jenis sambal yang cukup dikenal penggemar kuliner pedas adalah sambal terasi, sambal korek, sambal bawang, dan sambal roa. Menurut Murdijati Gardjito, Peneliti Ilmu Pangan Senior dari UGM, setiap daerah di tanah air mempunyai sambal khas-nya masing-masing. Pada riset teranyarnya ia mengumpulkan ada 322 jenis sambal di seluruh nusantara.

 

Sambal kesukaan masyarakat Indonesia

Secara umum sambal yang digemari masyarakat ternyata adalah sambal sederhana dengan resep dasar yang simple dan bisa dikembangkan menjadi jenis sambal yang lain. Hal ini dikatakan oleh Direktur Restoran Super Sambal, Yoyok, pada sela-sela seminar UGM tentang Kuliner Serba Pedas. Ia pun berkenan membocorkan tipe-tipe sambal yang paling diminati pelanggannya dari 84 jenis sambal yang tersedia. Jawabannya ternyata adalah sambal terasi dan sambal bawang, dengan omset setiap bulannya bisa mencapai hingga 1.2 juta porsi.

 

Para peringat 3 ada sambal terasi tomat serta sambal terasi goreng atau masak, lalu menyusul beragam jenis sambal modifikasi, misalnya sambal teri, sambal belut, sambal mangga, hingga sambal tempe. Di restoran Super Sambal Yoyok mengatakan bahwa yang dikeluarkan di menu hanya 25 jenis sambal dari keseluruhan sambal yang diracik.

 

Berikutnya, sisanya akan di-switch untuk diganti mana menu sambal yang kurang disukai. Hidangan pedas dari resto Super Sambal ternyata menjadi favorit masyarakat di kawasan Pantura, mulai dari kota Cirebon hingga Semarang. Selain itu kuliner pedas juga disukai di kawasan Jawa Barat, Jawa Timur, serta DKI Jakarta.

 

Sejak kapan orang Indonesia mengonsumsi sambal?

Sejak kapan sesungguhnya masyarakat di tanah air mulai mengonsumsi sambal? Titi Surti Nastiti, arkeolog Indonesia mengatakan bahwa sejak masa Kerajaan Mataram Kuno cabai telah menjadi komoditas mahal di pasar-pasar. Teks kuno Ramayana yang ditulis abad ke-10 menyebutkan bahwa cabai adalah buah yang bisa dimakan. Pada era Hindia Belanda, buku De Medicina Indorum (1631) karya Jacob de Bont yang merupakan ahli kesehatan serta obat-obatan tropis mencantumkan bahwa cabai merupakan barang konsumsi.

 

Van Overbeke bahkan menggubah syair tentang sambal sebagai campuran bahan bawang putih, jahe, kacang kedelai, dan cabai yang membuat perut berputar karena pedas. Orang-orang barat memang tak tahan dengan rasa pedas namun mereka menganggap bahwa sambal adalah hidangan togel online yang eksotis. Pada masa pendudukan VOC Belanda, pembantu lokal yang bisa membuat sambal yang enak untuk majikannya akan digaji tinggi. Pemerintah Hindia Belanda sampai perlu memberikan peringatan bagi warga negaranya yang ingin berkunjung ke Hindia Belanda akan bahaya sambal untuk pencernakan mereka.

 

Bagi orang Indonesia rasanya belum lengkap bila menyantap hidangan tanpa ditemani sambal. Tentu saja peningkatan harga cabai bisa menimbulkan keresahan bagi sebagian besar kalangan masyarakat. Para penggemar kuliner pedas memang seringkali mengonsumsi sambal untuk menambah selera makan. Bila berkesempatan bertandang ke luar negeri salah satu barang bawaan yang tak pernah ketinggalan dari orang Indonesia adalah sambal botol atau sachet. Inilah buktinya masyarakat di tanah air memang pecinta sambal sejati.

 

Menurut Lisa Virgiano, Brand Director Kaum, pada acara workshop pembuatan sambal di Jakarta beberapa waktu lalu, salah satu alasan mengapa masyarakat Indonesia kaya dengan jenis sambal adalah karena etnisnya yang sangat beraneka ragam dan banyak. Nusantara kita memiliki sekitar 300 etnis penduduk, bila satu etnis saja mempunyai sambal khas sejumlah 5 jenis, tentu jumlah keseluruhannya sangat banyak.